Thiibul Kalim al-Muntaqa Min Kitaab al-’Ilm Li Ibni Utsaimin karya Abu Juwairiyah

Standar

“Allahu ta’ala akan meninggikan orang-orang Yang beriman diantaramu dan Orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”
QS. Al Mujaadilah (58) : 11

“Allah dan para malaikat serta orang-orang yang berilmu menyatakan (bersaksi) bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia (Allah)” (QS.03:18)

Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)
Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim)
Sayidina Ali bin Abi Thalib yang oleh Rasulullah saw. dijuluki sebagai pintu gerbangnya Ilmu, mengatakan, “Tiada kekayaan lebih utama daripada akal. Tiada kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan lebih baik daripada pendidikan”.
Jawaban-jawaban dari Imam Ali bin Abi Thalib ketika ditanya tentang mana yang lebih utama antara Ilmu dengan harta :
“Ilmu lebih utama daripada harta, Ilmu adalah pusaka para Nabi, sedang harta adalah pusaka Karun, Sadad, Fir’aun, dan lain-lain”.
untuk bisa meraih apa yang kita idam-idamkan ini tentunya ada adab-adab yang harus diperhatikan agar ilmu yang kita peroleh membuahkan barakah, menebarkan rahmah dan bukannya malah menebarkan fitnah atau justru menyulut api hizbiyah.
Wallaahul musta’aan.
Adab Pertama : Mengikhlaskan niat untuk Allah ‘azza wa jalla

Yaitu dengan menujukan aktivitas menuntut ilmu yang dilakukannya untuk mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat, sebab Allah telah mendorong dan memotivasi untuk itu. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan minta ampunlah atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Pujian terhadap para ulama di dalam al-Qur’an juga sudah sangat ma’ruf. Apabila Allah memuji atau memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu bernilai ibadah.
Oleh sebab itu maka kita harus mengikhlaskan diri dalam menuntut ilmu hanya untuk Allah, yaitu dengan meniatkan dalam menuntut ilmu dalam rangka mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla.
Apabila dalam menuntut ilmu seseorang mengharapkan untuk memperoleh persaksian/gelar demi mencari kedudukan dunia atau jabatan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk mencari wajah Allah ‘azza wa jalla tetapi dia justru berniat untuk meraih bagian kehidupan dunia maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.”
yakni tidak bisa mencium aromanya, ini adalah ancaman yang sangat keras. Akan tetapi apabila seseorang yang menuntut ilmu memiliki niat memperoleh persaksian/ijazah/gelar sebagai sarana agar bisa memberikan manfaat kepada orang-orang dengan mengajarkan ilmu, pengajian dan sebagainya, maka niatnya bagus dan tidak bermasalah, karena ini adalah niat yang benar.
Adab Kedua :Bertujuan untuk mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain

Dia berniat dalam menuntut ilmu demi mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain. Sebab pada asalnya manusia itu bodoh, dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Allah lah yang telah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan kemudian Allah ciptakan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati supaya kalian bersyukur.” (QS. An Nahl: 78). Demikian pula niatkanlah untuk mengangkat kebodohan dari umat, hal itu bisa dilakukan dengan pengajaran melalui berbagai macam sarana, supaya orang-orang bisa memetik manfaat dari ilmu yang kau miliki.
Adab Ketiga :Bermaksud membela syariat

Yaitu dalam menuntut ilmu itu engkau berniat untuk membela syariat, sebab kitab-kitab yang ada tidak mungkin bisa membela syariat (dengan sendirinya). Tidak ada yang bisa membela syariat kecuali si pembawa syariat. Seandainya ada seorang ahlul bid’ah datang ke perpustakaan yang penuh berisi kitab-kitab syariat yang jumlahnya sulit untuk dihitung lantas dia berbicara melontarkan kebid’ahannya dan menyatakannya dengan lantang, saya kira tidak ada sebuah kitab pun yang bisa membantahnya. Akan tetapi apabila dia berbicara dengan kebid’ahannya di sisi  bagi kalian pendengaran,
penglihatan dan hati supaya kalian bersyukur.”  (QS. An Nahl:
78). Demikian pula niatkanlah untuk mengangkat kebodohan dari umat,
hal itu bisa dilakukan dengan pengajaran melalui berbagai macam
sarana, supaya orang-orang bisa memetik manfaat dari ilmu yang kau
miliki.
Adab Ketiga : Bermaksud membela Syariat

Yaitu dalam menuntut ilmu itu engkau berniat untuk membela syariat,
sebab kitab-kitab yang ada tidak mungkin bisa membela syariat
(dengan sendirinya). Tidak ada yang bisa membela syariat kecuali si
pembawa syariat. Seandainya ada seorang ahlul bid’ah datang ke
perpustakaan yang penuh berisi kitab-kitab syariat yang jumlahnya
sulit untuk dihitung lantas dia berbicara melontarkan kebid’ahannya
dan menyatakannya dengan lantang, saya kira tidak ada sebuah kitab
pun yang bisa membantahnya. Akan tetapi apabila dia berbicara
dengan kebid’ahannya di sisi orang yang berilmu demi menyatakannya
maka si penuntut ilmu itu akan bisa membantahnya dan menolak
perkataannya dengan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu
saya katakan: Salah satu hal yang harus senantiasa dipelihara di
dalam hati oleh penuntut ilmu adalah niat untuk membela syariat.
Manusia kini sangat membutuhkan keberadaan para ulama, supaya
mereka bisa membantah tipu daya para ahli bid’ah serta seluruh
musuh Allah ‘azza wa jalla.
Adab Keempat :  Berlapang dada dalam masalah khilaf

Hendaknya dia berlapang dada ketika menghadapi masalah-masalah
khilaf yang bersumber dari hasil ijtihad. Sebab perselisihan yang
ada di antara para ulama itu bisa jadi terjadi dalam perkara yang
tidak boleh untuk berijtihad, maka kalau seperti ini maka
perkaranya jelas. Yang demikian itu tidak ada seorang pun yang
menyelisihinya diberikan uzur. Dan bisa juga perselisihan terjadi
dalam permasalahan yang boleh berijtihad di dalamnya, maka yang
seperti ini orang yang menyelisihi kebenaran diberikan uzur. Dan
perkataan anda tidak bisa menjadi argumen untuk menjatuhkan orang
yang berbeda pendapat dengan anda dalam masalah itu, seandainya
kita berpendapat demikian niscaya kita pun akan katakan bahwa
perkataannya adalah argumen yang bisa menjatuhkan anda.
Yang saya maksud di sini adalah perselisihan yang terjadi pada
perkara-perkara yang diperbolehkan bagi akal untuk berijtihad di
dalamnya dan manusia boleh berselisih tentangnya. Adapun orang yang
menyelisihi jalan salaf seperti dalam permasalahan akidah maka
dalam hal ini tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk
menyelisihi salafush shalih, akan tetapi pada permasalahan lain
yang termasuk medan pikiran, tidaklah pantas menjadikan khilaf
semacam ini sebagai alasan untuk mencela orang lain atau
menjadikannya sebagai penyebab permusuhan dan kebencian.
Maka menjadi kewajiban para penuntut ilmu untuk tetap memelihara
persaudaraan meskipun mereka berselisih dalam sebagian permasalahan
furu’iyyah (cabang), hendaknya yang satu mengajak saudaranya untuk
berdiskusi dengan baik dengan didasari kehendak untuk mencari wajah
Allah dan demi memperoleh ilmu, dengan cara inilah akan tercapai
hubungan baik dan sikap keras dan kasar yang ada pada sebagian
orang akan bisa lenyap, bahkan terkadang terjadi pertengkaran dan
permusuhan di antara mereka. Keadaan seperti ini tentu saja membuat
gembira musuh-musuh Islam, sedangkan perselisihan yang ada di
antara umat ini merupakan penyebab bahaya yang sangat besar, Allah
ta’ala berfirman yang artinya,

Dan taatilah Allah
dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih yang akan
menceraiberaikan dan membuat kekuatan kalian melemah. Dan
bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang
sabar. (QS. al-Anfaal: 46).


Adab Kelima : Beramal dengan Ilmu

Yaitu hendaknya penuntut ilmu mengamalkan ilmu yang dimilikinya,
baik itu akidah, ibadah, akhlaq, adab, maupun muamalah. Sebab amal
inilah buah ilmu dan hasil yang dipetik dari ilmu, seorang yang
mengemban ilmu adalah ibarat orang yang membawa senjatanya, bisa
jadi senjatanya itu dipakai untuk membela dirinya atau justru untuk
membinasakannya. Oleh karenanya terdapat sebuah hadits yang sah
dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau untuk
menjatuhkanmu”


Adab Keenam : Berdakwah Ilallah

Yaitu dengan menjadi seorang yang menyeru kepada agama Allah ‘azza
wa jalla, dia berdakwah pada setiap kesempatan, di masjid, di
pertemuan-pertemuan, di pasar-pasar, serta dalam segala kesempatan.
Perhatikanlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau setelah
diangkat menjadi Nabi dan Rasul tidaklah hanya duduk-duduk saja di
rumahnya, akan tetapi beliau mendakwahi manusia dan bergerak ke
sana kemari. Saya tidak menghendaki adanya seorang penuntut ilmu
yang hanya menjadi penyalin tulisan yang ada di buku-buku, namun
yang saya inginkan adalah mereka menjadi orang-orang yang berilmu
dan sekaligus mengamalkannya.
Adab Ketujuh: Bersikap Bijaksana ( Hikmah )

Yaitu dengan menghiasi dirinya dengan kebijaksanaan, di mana Allah
berfirman yang artinya,

“Hikmah itu diberikan
kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang diberi
hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang sangat banyak.”
(QS. al-Baqarah: 269).

Yang dimaksud hikmah ialah seorang penuntut
ilmu menjadi pembimbing orang lain dengan akhlaknya dan dengan
dakwahnya mengajak orang mengikuti ajaran agama Allah ‘azza wa
jalla, hendaknya dia berbicara dengan setiap orang sesuai dengan
keadaannya.
Apabila kita tempuh cara ini niscaya akan tercapai kebaikan yang
banyak, sebagaimana yang difirmankan Tuhan kita ‘azza wa jalla yang
artinya,  “Dan barang siapa yang diberikan hikmah
sungguh telah diberi kebaikan yang amat banyak.”

Seorang
yang bijak (Hakiim) adalah yang dapat menempatkan segala sesuatu
sesuai kedudukannya masing-masing. Maka sudah selayaknya, bahkan
menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk bersikap hikmah di
dalam dakwahnya.
Allah ta’ala menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah di dalam
firman-Nya yang artinya,  “Serulah ke jalan Tuhanmu
dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan
cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl: 125).
Dan Allah ta’ala telah menyebutkan tingkatan dakwah yang keempat
dalam mendebat Ahli kitab dalam firman-Nya, “Dan
janganlah kamu mendebat ahlu kitab kecuali dengan cara yang lebih
baik kecuali kepada orang-orang zhalim diantara mereka.”
(QS. al-’Ankabuut: 46).

Maka hendaknya penuntut ilmu memilih cara
dakwah yang lebih mudah diterima oleh pemahaman orang
Adab Kedelapan :  Penuntut ilmu harus bersabar dalam menuntut ilmu
Yaitu hendaknya dia sabar dalam belajar, tidak terputus di tengah
jalan dan merasa bosan, tetapi hendaknya di terus konsisten belajar
sesuai kemampuannya dan bersabar dalam meraih ilmu, tidak cepat
jemu karena apabila seseorang telah merasa jemu maka dia akan putus
asa dan meninggalkan belajar. Akan tetapi apabila dia sanggup
menahan diri untuk tetap belajar ilmu niscaya dia akan meraih
pahala orang-orang yang sabar; ini dari satu sisi, dan dari sisi
lain dia juga akan mendapatkan hasil yang baik.
Adab Kesembilan : Menghormati ulama dan memosisikan
mereka sesuai kedudukannya.
Sudah menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk menghormati
para ulama dan memosisikan mereka sesuai kedudukannya, dan
melapangkan dada-dada mereka dalam menghadapi perselisihan yang ada
di antara para ulama dan selain mereka, dan hendaknya hal itu
dihadapinya dengan penuh toleransi di dalam keyakinan mereka bagi
orang yang telah berusaha menempuh jalan (kebenaran) tapi keliru,
ini catatan yang penting sekali, sebab ada sebagian orang yang
sengaja mencari-cari kesalahan orang lain dalam rangka melontarkan
tuduhan yang tak pantas kepada mereka, dan demi menebarkan keraguan
di hati orang-orang dengan cela yang telah mereka dengar, ini
termasuk kesalahan yang terbesar.
Apabila menggunjing orang awam saja termasuk dosa besar maka
menggunjing orang berilmu lebih besar dan lebih berat dosanya,
karena dengan menggunjing orang yang berilmu akan menimbulkan
bahaya yang tidak hanya mengenai diri orang alim itu sendiri, akan
tetapi mengenai dirinya dan juga ilmu syar’i yang dibawanya.
Sedangkan apabila orang-orang telah menjauh dari orang alim itu
atau harga diri mereka telah jatuh di mata mereka maka ucapannya
pun ikut gugur. Apabila dia menyampaikan kebenaran dan menunjukkan
kepadanya maka akibat gunjingan orang ini terhadap orang alim itu
akan menjadi penghalang orang-orang untuk bisa menerima ilmu syar’i
yang disampaikannya, dan hal ini bahayanya sangat besar dan
mengerikan. Saya katakan, hendaknya para pemuda memahami
perselisihan-perselisihan yang ada di antara para ulama itu dengan
anggapan mereka berniat baik dan disebabkan ijtihad mereka dan
memberikan toleransi bagi mereka atas kekeliruan yang mereka
lakukan, dan hal itu tidaklah menghalanginya untuk berdiskusi
dengan mereka dalam masalah yang mereka yakini bahwa para ulama itu
telah keliru, supaya mereka menjelaskan apakah kekeliruan itu
bersumber dari mereka ataukah dari orang yang menganggap mereka
salah ?! Karena terkadang tergambar dalam pikiran seseorang bahwa
perkataan orang alim itu telah keliru, kemudian setelah diskusi
ternyata tampak jelas baginya bahwa dia benar.
Dan demikianlah sifat manusia, “Semua anak Adam pasti pernah
salah dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang senantiasa
bertaubat”. Adapun merasa senang dengan ketergelinciran seorang
ulama dan justru menyebar-nyebarkannya di tengah-tengah manusia
sehingga menimbulkan perpecah belahan maka hal ini bukanlah
termasuk jalan Salaf.
Adab Kesepuluh:Berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah
Wajib bagi penuntut ilmu untuk memiliki semangat penuh guna meraih
ilmu dan mempelajarinya dari pokok-pokoknya, yaitu perkara-perkara
yang tidak akan tercapai kebahagiaan kecuali dengannya,
perkara-perkara itu adalah :
1. Al-Qur’an Al-Karim
Oleh sebab itu wajib bagi penuntut ilmu untuk bersemangat dalam
membacanya, menghafalkannya, memahaminya serta mengamalkannya
karena al-Qur’an itulah tali Allah yang kuat, dan ia adalah
landasan seluruh ilmu. Para salaf dahulu sangat bersemangat dalam
mempelajarinya, dan diceritakan bahwasanya terjadi berbagai
kejadian yang menakjubkan pada mereka yang menunjukkan begitu besar
semangat mereka dalam menelaah al-Qur’an. Dan sebuah kenyataan yang
patut disayangkan adalah adanya sebagian penuntut ilmu yang tidak
mau menghafalkan al-Qur’an, bahkan sebagian di antara mereka tidak
bisa membaca al-Qur’an dengan baik, ini merupakan kekeliruan yang
besar dalam hal metode menuntut ilmu. Karena itulah saya senantiasa
mengulang-ulangi bahwa seharusnya penuntut ilmu bersemangat dalam
menghafalkan al-Qur’an, mengamalkannya serta mendakwahkannya, dan
untuk bisa memahaminya dengan pemahaman yang selaras dengan
pemahaman salafush shalih.
2. As Sunnah yang shahihah
Ia merupakan sumber kedua dari sumber syariat Islam, dialah
penjelas al-Qur’an al Karim, maka menjadi kewajiban penuntut ilmu
untuk menggabungkan antara keduanya dan bersemangat dalam mendalami
keduanya. Penuntut ilmu sudah semestinya menghafalkan as-Sunnah,
baik dengan cara menghafal nash-nash hadits atau dengan mempelajari
sanad-sanad dan matan-matannya, membedakan yang shahih dengan yang
lemah, menjaga as-Sunnah juga dengan membelanya serta membantah
syubhat-syubhat yang dilontarkan Ahlu bid’ah guna menentang
as-Sunnah.

Iklan

23 responses »

  1. Assalamualaikum..

    Mohan ijin nyimak guru,
    @om haris
    @wisangeni
    @abang palui salim,salam kekerabatan.

  2. assalamualaikum …….. salam berkah nur muhammad….
    @ Abang atok
    @abdulharis
    @wisanggeni
    @palui
    @repati u

    salim jabat erat………

  3. izin menyimak guru atok.

    cerita sedikit.
    pada suatu perbincangan, pernah di kampung saya ada orang tua ngomong ke saya, buat apa sekolah, itu si A tidak sekolah mobilnya banyak, rumahnya bagus, tapi coba lihat si B yang katanya sarjana nganggur luntang lantung nga punya apa2. saya ga bisa jawab apa2 (malu saya).

  4. Assalamu’alaikum..wr wb
    Absen menjelang pagi
    Ikut nyimak …Bapak guru Atok
    Alhamdulillah…tambah wawasan
    @All kerabat KDB
    Salam berkah Nurmuhammad

  5. IMAN TANPA ILMU SAMA DENGAN PELITA DI TANGAN BAYI SEDANGKAN ILMUTANPA IMAN BAGAIKAN PELITA DITANGAN PENCURI

    Senyum barakah nur muhammad.

  6. Izin Nyimak

    IMAN TANPA ILMU SAMA DENGAN PELITA DI TANGAN BAYI
    akan membakar diri sendiri
    SEDANGKAN ILMU TANPA IMAN BAGAIKAN PELITA DITANGAN PENCURI
    akan membakar orang lain ( merugikan orang lain )

  7. Terus menyimak untaian kata2 mutiara dr abang atok
    salam takdzim penuh hormat ya abang atok… Senyum
    @all kerabat met beraktivitas salam barokah nurmuhammad

  8. Assalamualaikum Wr Wb, salam takzim atok guru dan salam salim kerabat kdb fillah. Terimakasih atok guru tausiahnya. Sekedar menyadur dari kitab “semula jadi” melayu buat diri ini yg dhoif dan kerabat fillah semoga ada hikmahnya.

    ‘Pada wadi mani manikam, Asalnya ia daripada kalam, Dengan kodrat Tuhan Halikul Alam, Yang menjadikan tubuh si anak Adam.’
    ‘Tuntutlah ilmu walau di mana, Amal dan ilmu tiada terhingga, Amal tanpa ilmu diazab kita, Di akhirat tiada berguna.’

    Yang sebenar-benar diri itu ialah ROH.
    Tatkala ROH masuk pada tubuh, NYAWA namanya.
    Tatkala ia keluar masuk, NAFAS namanya.
    Tatkala ia berkehendak pada sesuatu, IKHTIAR namanya.
    Tatkala ia ingin akan sesuatu, NAFSU namanya.
    Tatkala ia ingat akan sesuatu, ARIF namanya.
    Tatkala ia percaya akan sesuatu, IMAN namanya.
    Tatkala ia dapat memperbuat sesuatu AKAL namanya.
    Dan pohon akal itu ialah ‘ILMU’

  9. Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu. (HR. Ath-Thabrani)
    Kelebihan seorang alim terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang. (HR. Abu Dawud )

  10. Assalamualaikum
    sekalian Absen menyapa kerabat
    salam barokah nur MUhammad

    teringat perkataan saudara saya menasehati kami
    ” ada kalanya sudah sekian lama kita belajar, sudah berbulan2 bulan bahkan bertahun-tahun sudah menuntut ilmu kok belum terlihat hasilnya?
    tapi ada kalanya juga seorang pemuda baru belajar dalam waktu yang singkat, baru dua atau tiga hari sudah mendapatkan hasil?
    way…? ( eh kepake bahasa inggris mas Tukul )
    maksudnya WHY ?
    padahal saya kelihatannya sudah istiqomah? ( senyum …memuji diri sendiri )
    pasti ada RAHASIANYA nih ?
    saya bingung…apa ya?

    terimakasih Abang Atok pencerahan dan penjelasannya untuk goresan
    “Thiibul Kalim al-Muntaqa Min Kitaab al-’Ilm Li Ibni Utsaimin karya Abu Juwairiyah”

    salam takzim dari kami

    wassalam

Salam Barokah Nur Muhammad

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s